Ucap Bela untuk “Pa Aop”


Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Senin pagi (19/3) pukul 08.30 usai upacara bendera, ia terpaksa menggunting sedikit rambut beberapa siswanya, termasuk siswa berinisial Tm, karena dianggap terlalu panjang. Sebelumnya pada Jumat (16/3), siswa kelas 3 ini sudah diperingatkan oleh Aop agar rambutnya dipotong menjelang UAS. Selain Tm, ada beberapa murid yang juga dipotong rambutnya oleh Aop.

Aop tak sadar, itulah awal dari “bencana” yang akan dialaminya. Rupanya, orang tua Tm, yakni IH alias Iwan (38) tak terima dengan tindakan Aop. Maka, pada hari yang sama (19/3) pukul 10.30, Iwan mendatangi Aop ke sekolah tempat anaknya sekolah. Namun saat itu Aop sudah pulang. Tetapi, pada pukul 13.00 Iwan menemukan Aop sedang nyambi mengajar di Madrasah Tsanawiyah (MTs) PUI Panjalin Kecamatan Sumberjaya. Di sekolah tersebut Aop mengaku sempat dipukul lalu dilerai oleh guru-guru yang ada di sekolah itu. Iwan kemudian pulang ke rumah. Aop pun mengaku sudah meminta maaf.

“Waktu di MTs itu dipisahin sama guru-guru. Tapi, yang bikin saya sakit hati, saya sudah minta maaf, bukannya dimaafkan, tapi saya malah diteriaki kata-kata kasar. Dia (Iwan, red) bilang, jangan sok-sokan, baru jadi guru honorer saja sudah sombong, emang guru honorer bisa apa” Berani ngelawan pengusaha yang banyak duit?,” kata Aop itu saat ditemui Radar (Group JPNN) di rumahnya, (25/3).

Ternyata, masalahnya tak selesai di sini. Masih di hari yang sama Iwan kembali mencari Aop. Tapi kali ini Iwan tidak sendiri, melainkan membawa 4 temannya. Pada pukul 13.30, kelima orang ini kemudian berhasil mencegat Aop di pintu masuk halaman SDN Panjalin 1, saat Aop hendak mengikuti rapat bersama guru lain di sekolah dekat Pasar Prapatan tersebut. Saat itu Aop mengaku dipukul dari belakang saat masih memakai helm.

Iwan, masih belum puas. Di tempat itu pula tangan dan kaki Aop dipegang oleh kawan-kawannya dan rambutnya digunting paksa oleh Iwan. Rambut sebelah kanan dan kiri habis dipangkas. Anehnya, banyak guru-guru yang hendak rapat itu melihatnya, tapi tak ada yang berani menolong.

Setelah dikerjai, hari itu juga Aop langsung melaporkan kekerasan atas dirinya kepada Polsek Sumberjaya. Namun, entah kenapa oleh pihak polsek Aop “disarankan” untuk melapor ke Polres Majalengka. Saran itu dituruti Aop, ia melapor ke Polres Majalengka. Tetapi, hingga berita ini ditulis, Polres Majalengka belum juga memproses kasus yang dianggap sebagai penghinaan terhadap kaum pendidik tersebut.

(sumber : NUSANTARA – JABAR )
Senin, 26 Maret 2012 , 07:20:00

“Yang penting bukan siapa yg menghakimimu saat kau jatuh, tapi siapa yg ada di sampingmu dan membantumu berdiri kembali”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s