“Selamat Tinggal, tuhan-tuhan bertulang!”


Nun jauh di sana, di Roma, tatkala hening meranggas di istana yg megah, dan satwa-satwa malam sedang menyelenggarakan konser rutin di semak-semak kebun yang rimbun dan basah, tiba-tiba sang kasiar terjaga dengan wajah kutu bersimbah peluh lalu memanggil-manggil juru takwil mimpi yang tak lagi diingat namanya. Dengan tergopoh-gopoh, sang penakwil berlari menghadap juragannya yang terbujur lunglai di atas ranjangnya. “Hai,” teriaknya membahana. “Dalam tidurku kulihat kerajaan Romawi tumbang dan istananya runtuh lalu berubah menjadi tumpukan puing yang betapa mengerikan,” tanyanya tersengal-sengal. Penakwil tua itu menundukkan kepala sambil berbisik: “Baginda, telah terlahir bayi ajaib di Arabia bernama MUHAMMAD’.

Di lorong Salam yang tenang,di sepetak bangunan yang remang

di kampung Tihamah yang lengang

di jantung Bakkah yang gersang

di persada Jazirah yang kerontang…

sinar misterius menghunjam persada dan membedah malam pertengahan Rabi’ul awwal,

sebuah jeritan bayi malakuti melambung dan mengoyak angkasa Ummul-Qura

gemerincing lampu-lampu kristal istana Khosro Parwiz mengisyaratkan sebuah peristiwa…

Dentang-dentang lonceng raksasa gereja Roma mengumandangkan sebuah warta…

Debam-debam gajah-gajah Abrahah yang berjatuhan beradu bagai genderang laga…

Kelepak sayap merpati di atas Mekkah yang menari bersusulan laksana rebana pesta…

lalu terdengar kumandang …selamat menggigil, cukong-cukong tamak…

selamat berhamburan, tuhan-tuhan bertulang…

selamat berjatuhan, raja-raja jorok…

selamat ketakutan, seniman-seniman cabul di pasar Ukaz

selamat bangkrut, saudagar-saudagar budak

Berpestalah, hai kuli-kuli gratis juragan-juragan Quraisy

Bergembiralah, hai kaum buruh di ladang Umayyah

Kumandangkan lagu kemerdekaan

Gelarlah permadani merah demi menyambut MUHAMMAD!

Mentari menyingsing dan menyongsong,

Purnama menyeruak dan menyapa,

Gemintang berkilau dan menyambut,

Pelangi berhias dan mendaulat

Ka’bah menyala dan mengucapkan ’selamat datang’ ’selamat lahir’…

kepada debur ombak rabbani yang bergulung menghempas buih syaitani

kepada desah nafas subuh yang berhembus lembut segarkan pori-pori fitrah

kepada rinai-rinai iman yang berguguran membilas sahara Hijaz

kepada sepoi-sepoi sejuk yang meniup pucuk dedaunan korma

kepada simponi tangkai zaitun yang bergesekan laksana biola

kepada mawa api tauhid yang menjilat gelap syirik

kepada untaian syair ilahi yang abadi

kepada rangkaian firman yang suci

kepada penguasa altar malakut yang menghadirkan gelegar dahsyat di lelangit

kepada kuasa Musa,

kasih Yesus,

damai Budha,

hikmah Socrates,

logika Aristo,

ide Plato,

Iluminasi Agustinus,

aura Zoroaster

dan wibawa Lao Tse…

kepada pemuka para kohen, santo dan imam

kepada utusan Sang Khuda,

duta Sang Theos,

pewarta Sang Hyang dan Rasul Allah

kepada Sang Rahmat

kepada Akibat Pertama

kepada Cahaya Kedua

kepada dia yang bernama MUHAMMAD!

Bertapa dalam gua gelap Tsur

bersemedi dalam lembah Hira

menggigil dalam kesendirian lereng Arafah

menggelinjang dalam asmara Lahut

menggigil dalam pelukan Sang Jalal

mengerang dalam kehangatan Sang Jamal

bergejolak dalam pesta malaikat

menanggalkan busana ragahilang dalam Ada

kembali memasuki nasutdilumuri kotoran onta di Haram

dilempar bebatuan bocah-bocah Thaif

bermandikan darah di Uhud

bersenda jenaka di hadapan yatim

menghibur para janda syuhada

berhariraya dengan gelandangan

bergaul dengan kaum cacat dan kusta

bersukacita didatangi tamu tuna netra

berjalan menunduk di keramaian

mencium tangan pekerja kasar

pemaaf kala berkuasa

membantu sebelum diminta

berbalik tubuh bila diseur

menegur tanpa menunggu

bermurah dengan senyum

menggali parit dan sumur

tidur dengan bantal batu

keluar masuk pasardan berseru akulah Sang Utusan

akulah MUHAMMAD

MUHAMMAD, Sang Nabi…

nabi para pendekar tiada banding bagai Haidar,

nabi para prajurit berani bagai Miqdad…

nabi para cendekiawan mahir bagai Salman…

nabi para kader tanpa pamrih bagai Ammar…

nabi para budak berhati salju bagai Bilal…

nabi para martir perindu sorga bagai Ja’far…

nabi para tahanan politik anti nepotisme bagai Abu Zar…

MUHAMMAD!

Jangan pandang kami dg mata kecewa…

Lumpang tempat putrimu menumbuk gandum teramat mahal bagi kami…

Atap pelepah korma bilikmu sungguh teduh di atas kepala kami…

Derit pintu rumahmu sunggu merdu di telinga kami

Tangisan kedua cucumu yang sakit menahan lapar sungguh menyayat hati kami…

Suaramu yang parau saat meminta secarik kertas dan setangkai pena mengiang selalu dalam sanubari kami…

Pesanmu agar kami tak berbalik menjadi pengikut Samiri akan kami rawat dalam dada kami sepanjang hidup!!!

MUHAMMAD!

Sampaikan salam kami kepada Zahra sang demonstran…

kepada Ali yang digorok di mihrab Kufah…

kepada Hasan yang menggelepar akibat racun…

kepada Husain yang hancur diinjak-injak dalam tarian puluhan kaki kuda di Nainawa…..

kepada jejiwa suci, gemintang yg menghiasi angkasa buana…

Kini kau sedang melihat kami dengan mata kecewa

kami yang sedang nongkrong di atas fosil-fosil kebodohan

kami yang asyik harakiri dengan pornografi atas nama seni

kami yang makin trampil menjadi bangsa yang latah

kami yang sakau dengan korupsi dari rt sampai pejabat

kami yang sudah kehilangan etika ketimuran

kami yang menjadi konsumeris dan pemuja raga

kami yang sibuk mempertontonkan lakon anarkisme

kami yang sudah menjadi kue ulangtahun dalam pesta para musuh

kami yang tak lagi bisa hidup rukun dan menghargai perbedaan

kami yang sebenarnya tak mengenal MUHAMMAD………

oleh Muhsin Labib

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s